Halo sahabat selamat datang di website clubmalambatam.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Perang Lebanon 2006, Konflik Mematikan Paling Berdarah Bagi Israel dan Hizbullah, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Israel sempat jadi sorotan setelah negara tersebut menawarkan bantuan pada Lebanon yang tengah diguncang ledakan dahsyat di Beirut, beberapa waktu lalu. Padahal, kedua negara tersebut merupakan musuh bebuyutan satu sama lainnya. Akar konflik tersebut bisa dilihat pada peristiwa pertempuran besar di tahun 2006 silam.

Pada saat itu, milisi Hizbullah Lebanon dan militer Israel saling unjuk kekuatan militer satu sama lain dan terlibat pertempuran terus-menerus hingga memakan korban jiwa dari kedua belah pihak. Bisa dibilang, konflik tersebut menjadi salah satu peperangan paling berdarah bagi Israel lantaran ratusan prajuritnya menjadi korban.

Konflik yang dilatarbelakangi atas penawanan kedua tentaranya oleh milisi Hizbullah

Ilustrasi roket Katyusha yang diluncurkan milisi Hizbullah [sumber gambar]
Konflik yang terjadi antara Hizbullah dan Israel berawal saat kelompok milisi tersebut mengklaim telah menahan dua orang pasukan IDF di dekat perbatasan Lebanon-Israel. Kepala Direktorat Operasi IDF, yang kala itu dijabat oleh Mayjen Gadi Eizenkot mengatakan, anggota milisi tersebut menembakkan roket hingga 150 buah ke wilayah negaranya. Hal tersebut membuat tensi konflik semakin memanas.

Makan korban jiwa dari militer IDF dan penduduk sipil Israel

Korban tewas dan terluka dari pihak Israel [sumber gambar]
Milisi Hizbullah diketahui menggunakan jenis roket Katyusha buatan Uni Soviet yang ditembakkan secara salvo ke arah Israel. Menurut data dari data dari Kementerian Luar Negeri Israel yang dikutip dari Tirto (30/07/2017) menyebutkan, sebanyak 44 warga sipil terbunuh dan 4.262 lainnya terluka. Dari pihak militer Israel, 121 orang meninggal dunia (termasuk dua tawanan yang diculik Hizbullah) dan melukai 628 prajurit lainnya.

Balas dendam Israel dengan mengebom kawasan warga sipil

Ilustrasi pengeboman di Qana, Lebanon Selatan [sumber gambar]
Tak tinggal diam, IDF pun menggelar operasi udara guna menghentikan serangan roket Hizbullah yang banyak menghantam wilayah Israel di bagian utara. Hingga pada Minggu, 30 Juli 2006, AU Israel mengebom kawasan Qana di Lebanon selatan dan wilayah sekitarnya selama 48 jam hingga rata dengan tanah. Dilansir dari Eubsorver (31/07/2006), 50 warga sipil menjadi korban dengan 30 orang di antaranya adalah anak.

Warga sipil menjadi korban keganasan perang Hizbullah dan Israel

Ilustrasi korban dari warga sipil akibat serangan Israel [sumber gambar]
Data lain yang diturunkan oleh Human Right Watch pada 1 Agustus 2006 menyebutkan, serangan udara Israel tersebut telah memakan korban sebanyak 28 warga sipil. Jumlah tersebut masih belum terhitung lantaran pemerintah Lebanon juga disibukkan untuk mengevakuasi warga di desa Qana. Sementara korban meninggal dunia di pihak Hizbullah juga simpang siur (klaim Hizbullah 250), versi pejabat Lebanon dan PBB kurang lebih 500 0rang, dan menurut IDF 600 hingga 800 orang.

Pertempuran panjang yang menjadi catatan kelam bagi kedua pihak

Milisi Hizbullah (kiri) dan tentara Israel atau IDF (kanan) [sumber gambar]
Peristiwa pengeboman di desa Qana, Lebanon Selatan hingga tembakan roket yang bertubi-tubi ke wilayah Israel, merupakan salah satu rangkaian dari perang mematikan antara milisi Hizbullah dengan pasukan militer Israel atau IDF. Israel pun dikecam oleh organisasi kemanusiaan internasional lantaran tak bisa membedakan antara pejuang Hizbullah dan warga sipil tak bersenjata. Peristiwa tersebut meninggalkan catatan hitam bagi Israel maupun milisi Hizbullah.

BACA JUGA: Perang 6 Hari, Kisah Israel yang Menang Pertempuran Meski Dikeroyok Negara-negara Arab

Konflik panjang antara Israel dan Lebanon memang belum benar-benar berakhir. Aroma permusuhan tersebut bahkan terasa hingga saat ini. Di mata Israel, Hizbullah dianggap mumpuni untuk menahan serangan negaranya dibanding kelompok bersenjata lainnya yang ada di Timur Tengah. Meski demikian, negeri Zionis tersebut menunjukkan empatinya dengan mencoba menawarkan bantuan saat Lebanon diguncang ledakan beberapa waktu lalu.

Itulah tadi informasi mengenai Perang Lebanon 2006, Konflik Mematikan Paling Berdarah Bagi Israel dan Hizbullah dan sekianlah artikel dari kami clubmalambatam.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.